DIGITAL GAP

posted:  28:02:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, readings, politics, contemplation

by Ivo Setyadi

Dengan adanya internet, the old economy had died. Internet telah memunculkan apa yang disebut internet economy dimana internet memegang peranan penting di dalamnya. Cara berbisnis sudah tidak lagi mengikuti kaidah ilmu ekonomi yang diajarkan di sekolahan dan bangku kuliah. Buktinya, di sekolah, anda tidak diajari untuk berjualan atau melelang barang anda di internet.

This new breed of economy, telah melahirkan jutawan-jutawan baru di dunia. Bukan dari hasil berbisnis cara lama, tapi lewat internet. Google adalah salah satu contoh nyata. Mereka yang menguasai internet, akan menguasai uang di dunia masa kini.

Ciri dari internet economy adalah, uang sudah bukan didapat dari sektor riil lagi, tapi dari hal-hal yang sifatnya intangible. Apakah Google menjual barang-barang riil? Tidak. Yang saat ini banyak menghasilkan uang misalnya adalah: hak cipta, SDM yang unggul, software, dan lain-lain.

Semua orang tahu, Mariah Carey sudah tidak laku lagi. Tapi begitu dia menjual album barunya melalui internet (99 cent/lagu) dan tidak melalui label, dia tidak jadi bangkrut. Perusahaan-perusahaan konsultan besar, mereka pun tidak menjual barang, melainkan isi kepala, dan jasa. Kaya dari software? Orang terkaya di dunia, Bill Gates, buktinya. Anda tahu berapa asset Google? Sebanyak harta negara Republik Indonesia ini.

Namun internet economy juga punya sisi buruk. Sisi buruk dari internet economy adalah digital gap. Mereka yang menguasai teknologi, akan dengan mudah menguasai mereka yang tidak menguasainya. Contoh yang paling mudah adalah, mereka yang tiap hari connect ke internet dapat dengan mudah menyerap informasi-informasi penting yang mereka perlukan untuk memutuskan banyak hal. Begitu mereka berhadapan dengan orang-orang yang buta internet dan informasi, ketimpangan pun terjadi. Penguasa internet akan makin jadi penguasa. Yang buta internet akan makin terjajah.

Indonesia, saat ini telah resmi kalah oleh Vietnam dalam hal penetrasi internet. Harga per kilobyte di Vietnam saat ini sudah lebih murah dari Indonesia. Thanks to monopoli Telkom, Indonesia akan jadi negara terjajah dan ketinggalan dalam internet economy. Belum lagi hal ini ikut diperparah dengan akan adanya pajak bandwidth.

Dan terakhir yang tak kalah hebohnya adalah razia CD import, dengan dalih pelanggaran hukum kepabean ataupun pelanggaran hak cipta yang merupakan kampanye dari negara barat. Padahal tidak semua CD yang diimport itu melanggar lho. CD-CD opensource kan memang gratis. Belum lagi CD-CD yang memang disertakan untuk pembelian komputer baru. Tapi DepKomInfo sepertinya melakukan pukul rata. Semua harus dirazia. Semua harus melalui badan sensor. Entah badan sensor mana yang melakukan.

Pemerintah tidak sadar bahwa hal-hal di atas sama saja memvonis suntik mati untuk bangsa Indonesia ke depannya. There is only a little chance for this country to survice in the new internet economy.

So, face it guys. As long as you live in Indonesia, anda cuma akan jadi bangsa terjajah di era economy baru ini. Sedihnya lagi, yang menjajah adalah (bangsa lain lewat tangan) pemerintah kita sendiri. Sebelum ada kesadaran dari para pengambil keputusan, kita akan terus begini.

Lebih baik pindah ke Thailand, Malaysia atau bahkan Vietnam kalau anda ingin maju.


Time to Abandon Matrix

posted:  27:02:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, readings

Bertolak belakang dengan iklan gencar dari Satelindo di mass media yang menyebut-nyebut upgrade to Matrix “supaya lebih bebas dan fleksibel”, saya mengalami dua hal yang membuat saya berketetapan hati untuk sudah saatnya meninggalkan matrix.

(1) Sebagai pelanggan setia satelindo (dan lalu berubah jadi matrix) sejak bertahun-tahun lalu, saya merasa dikecewakan dengan perubahan tenggat pembayaran yang tadinya satu bulan, menjadi dua (BACA: DUA) hari. Ini pun baru setelah pd tanggal 22 Matrix saya diblokir. Padahal tagihan baru datang tanggal 18. Apa ini artinya? Artinya adalah, kalau dulunya saya masih bisa menunggu gajian untuk membayar Matrix, saat ini sambil menunggu silakan nikmati blokir.

Dan SAYA BARU TAHU SOAL PERUBAHAN TENGGAT JADI HANYA DUA HARI , HANYA SETELAH DATANG, TANYA dan DIBERITAHU OLEH CUSTOMER SERVICE. Kenapa nggak nelpon aja, katanya? Lha saya nelpon dari pagi nggak masuk-masuk. Sampai sore datang ke customer service, layanan telpon customer service tidak bisa ditembus.

INIKAH KEBEBASAN DAN FLEKSIBILITAS yang ditawarkan Matrix kepada pelanggan lama? Kenapa mereka SAMA SEKALI TIDAK MENSOSIALISASIKAN info ini kepada pelanggan? Kalau begini caranya, bisa dibilang iklannya pun menyesatkan. Saya sarankan untuk pengguna mentari dan non satelindo, JANGAN SEKALI-SEKALI PINDAH KE MATRIX. Matrix sux!™

(2) Saya bertahan dengan Matrix karena Matrix-centro.com menyediakan layanan sms-gratis ke sesama pengguna matrix. Ini saya gunakan untuk sms ke istri saya. (Ya. Kami berdua bela-belain pakai Matrix). Soalnya lebih mudah ngirim sms ngetik di keyboard komputer. Bad news is, hari ini saya menemukan bahwa fasilitas itu nggak jalan! Masih ada sih, tapi di-send nggak ada hasil apa-apa! Tidak gagal, tidak berhasil, tidak pula ada di antrian. Matrix bener-bener sux!™

I think it’s time for me to Abandon Matrix!

PS: Nanya dong. Serius. (a) Operator lain berapa lama deadline bayar tagihannya? (b) Ada fasilitas sms dari internet? Kayaknya Telkomsel bisa di-sms dari Yahoo Messenger ya?

updated: yang nomor (2) terpaksa saya anulir, soalnya udah jalan lagi :p


LOW TRUST SOCIETY

posted:  27:02:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  readings, contemplation

Oleh: Rhenald Kasali (Pengajar Program MM dan Pascasarjana UI)

Saya baru saja memeriksa ujian mahasiswa saya. Ketika akan menyerahkan nilai akhir Mereka, saya terpaksa menoleh kepada berita acara ujian yang mencantumkan nama beserta tanda tangan mereka masing-masing. Astaga. Tak Ada satu pun nama yang dapat saya kenali dari tanda tangannya. Hal ini mengingatkan saya pada peristiwa unik yang saya alami hampir tujuh tahun silam ketika baru saja memulai program doktoral saya di Amerika Serikat.

Baru tiba beberapa hari, adviser saya menyuruh saya membuka bank account di bank mana saja di kota itu. Saya pun menurutinya. Maklum, tanpa punya buku cek, hidup di Amerika akan terasa sulit. Hampir semua transaksi dilakukan melalui pos. Bayar listrik, telepon, air, tagihan kartu kredit, beli buku, bayar pajak, kena tiket lalu lintas (tilang), sampai bayar uang sekolah. Semuanya menggunakan cek. Tanpa cek, hidup di Amerika kok rasanya susah sekali.

Setelah punya bank account dan mulai berbelanja dengan menggunakan cek, ternyata saya pun mengalami kesulitan. Pasalnya, petugas bank memanggil saya karena mengalami kesulitan membaca tanda tangan saya. Saya mencoba menjelaskannya bahwa itu benar tanda tangan milik saya, dan saya melakukannya kembali di depan petugas itu. Petugas tetap menolak dan mengatakan itu bukan tanda tangan. Kalau bukan tanda tangan lantas apa? “Itu urek-urek!”ujarnya sambil tersenyum. Sejak itu saya pun mulai berlatih membuat tanda tangan baru, yaitu tanda tangan yang namanya mudah teridentifikasi. Maka, sejak saat itu saya mulai terbiasa memiliki dua jenis tanda tangan. Saya menyebutnya satu tanda tangan lokal (yang dikatakan urek-urek tadi) dan satu lagi tanda tangan Amerika. Kalau Anda pernah hadir dalam seminar saya dan meminta saya menandatangani buku saya yang Anda baru beli, Anda pasti ingat bahwa saya selalu mengatakan itu adalah tanda tangan Amerika: mudah dibaca dan diidentifikasi. Ada juga pembaca yang minta dua-duanya, dan ada kalanya saya pun meluluskannya. Tanda tangan lokal itu biasanya hanya saya gunakan untuk urusan bank Dan menandatangani transkrip nilai mahasiswa. Dalam salah satu seminar saya pernah meminta agar para peserta menggoreskan tanda tangannya di atas kertas dan meminta rekan di sebelahnya yang baru dikenalnya mengenali nama mereka. Ternyata tak banyak di antara mereka yang dapat mengenali nama orang dari tanda tangannya. Ketika ditanya mengapa mereka membuat tanda tangan seruwet itu, semuanya menjawab bak koor: “Biar tidak mudah ditiru orang lain.” Mengapa kita semua melakukan hal yang sama? Mudah ditebak jawabnya.

Sejak kecil Kita telah diajari orang-orang tua dan guru-guru Kita agar tidak mudah percaya pada orang lain. “Buatlah tanda tangan yang tidak mudah ditiru agar jangan sampai dipalsukan orang lain.” Kita menurutinya, dan tanpa kita sadari roh-roh ketidakpercayaan ini sudah melekat dalam pikiran kita. “Trust,” kata Francis Fukuyama, adalah “the social virtues and the creation of prosperity.” Rasa percaya adalah suatu ikatan sosial yang penting untuk menciptakan kemakmuran. Kalau tidak ada rasa percaya, mestinya tidak ada bisnis. Bagaimana mungkin kita berbinsis dengan orang yang tidak Kita percaya? Rasa percaya itu pula yang akan menentukan bangunan organisasi perusahaan saudara. Makin rendah rasa percaya kita terhadap orang lain, makin banyak pula kita melibatkan sanak saudara kita, teman sealmamater, sesuku dan sebagainya terlibat dalam bisnis kita. Kita makin menutup pintu bagi orang lain. Dan akibatnya potensi kita untuk menjadi besar akan terhambat.

Pengalaman lainnya yang saya dapatkan di Amerika barangkali dapat menjelaskan betapa berbedanya tingkat rasa percaya. Menjelang pulang ke tanah air, setelah menyelesaikan program studi, saya pun melakukan moving sale melego barang-barang yang nilai bukunya masih cukup tinggi. Misalnya saja Ada sebuah dish washer (mesin pencuci piring) elektrik yang usianya baru tiga tahun Dan nilainya masih cukup tinggi namun harus dilepas dengan harga yang sangat murah. Pembelinya tentu saja masyarakat komunitas tempat tinggal kami, yang umumnya adalah keluarga muda atau para mahasiswa asing yang dari mancanegara. Kalau calon pembelinya datang dari negara-negara seperti Rusia, Yugoslavia, Ceko, Turki, Portugal, Brazil, Irak, Pakistan, India, atau negara-negara Afrika, biasanya transaksi berjalan tersendat-sendat. Mereka umumnya tidak percaya terhadap kualitas mesin (apakah masih tetap baik) dan harga yang ditawarkan. Mereka mengutak-atik mesin, menghabiskan waktu berjam-jam, mengajukan pertanyaan, lalu menawar di bawah separo dari harga yang ditawarkan. Prosesnya sama seperti Anda menawar harga sepasang sepatu di pasar Senen atau pasar lainnya di Indonesia. Dan akhirnya pun dapat diterka: tidak ada transaksi. Hal yang berbeda dialami kalau pembelinya berasal dari negara-negara yang barangkali dapat kita sebut sebagai high trust society, seperti Amerika, Inggris, Finlandia, bahkan Jepang yang rata-rata sudah lebih makmur hidupnya. Mereka cuma bertanya tiga hal: mengapa dijual, apakah ada kerusakan, dan berapa harganya. Kalau mereka suka, mereka tidak menawar, langsung angkat. Dalam kepala mereka, kalau barang ini rusak maka mereka akan kembalikan segera. Mereka percaya bahwa orang lain dapat dipercaya, dan kalau mereka menipu mereka akan ditangkap polisi, diadili, dan dijatuhi hukuman.

Pembaca, apakah implikasi melakukan kegiatan bisnis di sebuah low trust society? Mudah-mudahan Saudara sudah dapat menangkapnya: jangan langsung melakukan transaksi. Selalu mulailah dengan membangun rasa percaya dari lawan-lawan bisnis Anda. Jangan sesekali melakukan penawaran kalau lawan bisnis Anda di sini belum mengenal betul Anda. Kalau ada jalan pintas yang dapat ditawarkan, barangkali cuma satu ini: carilah jembatan melalui orang-orang yang sudah dikenal dan dipercaya oleh lawan bisnis Anda. Tanpa itu, Anda cuma melakukan upaya sia-sia. Saya merindukan, kelak anak-anak kita akan membuat tanda tangan yang namanya dapat dibaca oleh orang lain.


life isn’t fair!

posted:  22:02:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, contemplation

hidup ini nggak adil.

ada orang yg cukup dengan kerlingan mata, bisa dapet all the riches in this world, all what he/she wished for, bestowed in his/her lap. minta ini itu langsung ada yang buru-buru ngasih. ada yang nolak? nggak mungkin lah yauw…

tapi di lain pihak, ada orang yang harus berjuang setengah mati, nyari kerja ditolak sana-sini, jadi kuli ngangkut barang berkwintal-kwintal, kudu bangun pagi-pagi buta, kudu nyangkul seminggu untuk sekarung ubi yang harganya gak sampe ribuan perak, hanya demi bisa makan.

adilkah?
(but then again, who said life would be fair anyway :p )

c’est la vie


Selasa 13:04 BBWI

posted:  21:02:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  contemplation

Lagi makan ikan kuning di pantry. Nggak sadar kalo mbak Marina lewat di samping, in her way to the musholla. “Ivo, you look so sad,” katanya. In English.

Kaget. Cuma bisa nyengir. Masih sempet njawab “Ikannya susah (dimakan) … “, sebelum mbak Mar ngilang di balik pintu musholla.

Percakapan sambil lalu. Tapi menyisakan pertanyaan di hati. “Do I look that sad?”

Hihihi… sori, posting gak penting.


Viva Vina

posted:  20:02:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily

“… di pucuk kemarau panjang,
yang gersang dan menyakitkan,
kau datang membawa,
berjuta kesejukan,

kasih …
kau beri udara untuk nafasku,
kau beri warna bagi kelabu jiwaku”

(~vina, september ceria)

i sing this song for you, my lovely wife,
with all my heart …


Satu-satu

posted:  17:02:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  contemplation

SATU-SATU
(~Iwan Fals)

satu satu daun berguguran
jatuh ke bumi dimakan usia
tak tertengar tangis tak terdengar tawa
redalah, reda……

satu satu tunas muda bersemi
mengisi hidup gantikan yang tua
tak terdengar tangis
tak terdengar tawa
redalah, reda….

waktu terus bergulir
semuanya mesti terjadi
daun daun berguguran
tunas tunas muda bersemi

satu satu daun jatuh ke bumi
satu satu tunas muda bersemi
tak guna menangis
tak guna tertawa
redalah, reda….

waktu terus bergulir
semuanya mesti terjadi
daun daun berguguran
tunas tunas muda bersemi


Ivo Setyadi

February 2006
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Most Recent Posts:

Categories:

Archives:

Search:


Shouts:

Links:

Other:

Meta:


Rank

Blogsome Ad