Banjir di mana-mana
Banjir di mana-mana. Sinjai, Gorontalo, Ambon, Lampung.
Belum lagi bencana-bencana lainnya. Gempa, gunung berapi, banjir lumpur.
Pertanda apa ya?
Banjir di mana-mana. Sinjai, Gorontalo, Ambon, Lampung.
Belum lagi bencana-bencana lainnya. Gempa, gunung berapi, banjir lumpur.
Pertanda apa ya?
Tahukah anda bahwa pemerintah sudah mencabut blanket guarantee untuk deposito perbankan? Artinya, deposito anda tidak lagi dijamin oleh pemerintah. Jika bank-nya bangkrut, uang anda dalam bentuk deposito akan hilang juga.
Lalu apa alternatif pilihan investasi yang masih dijamin oleh pemerintah?
=> OBLIGASI NEGARA
Kalau tadinya Obligasi Negara cuma bisa dibeli dalam pecahan besar (1 milyar) maka Juli 2006 pemerintah akan menerbitkan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dengan pecahan terkecil 5 juta.
Jadi misal anda beli 2 unit ORI yg umurnya 3 tahunan seharga 10 juta dengan bunga 12%/tahun maka selama tiga tahun, setiap bulan anda akan mendapat kupon 1% yaitu sama dengan 100 ribu.
Brosurnya bisa dilihat di: http://www.dmo.or.id/publikasi/BrosurORInew.pdf
Mulailah kunjungi bank dimana anda menabung. Tanyakan apakah bank tersebut termasuk bank yang terpilih untuk jual Obligasi Ritel Pemerintah RI ….
Sambil berangkat kantor tadi pagi, pas lewat Monas, Pak Parno cerita soal acara keramaian ultah Jakarta yang dia ingat di tahun 71-72, atau udah lebih dari 30 tahun yang lalu. Jaman pak Ali Sadikin, katanya. Begini sekelumit kisahnya..
Pusat keramaian waktu itu adalah lapangan Monas (yang belum berpagar tentunya), plus jalan Thamrin sampai dengan bundaran Hotel Indonesia. HI masih merupakan satu-satunya gedung termegah di Jakarta, sebelum nantinya kalah sama Hotel Borobudur dan ‘hotel samping tugu tani’ kata pak Parno (Hotel Aryaduta).
Sepanjang jalan Merdeka sekeliling Monas sampai HI tsb, di malam HUT Jakarta, isinya lautan manusia. Jalan kaki, senggol-senggolan adu, sikut saking penuhnya. Belum banyak kendaraan bermotor waktu itu. Warga tumpah berjalan kaki ke jalanan.
Hebatnya, dulu, di malam HUT itu, di kiri-kanan jalan Thamrin, terdapat bermacam-macam hiburan, dari lenong, joget, wayang kulit dsb. Jadi, nggak cuma di Monas doang! Aku sampai bengong dengernya saking enggak percayanya, sambil nengok kiri-kanan ke gedung-gedung tinggi di sepanjang Thamrin yang di tahun 2006 ini sudah berdiri dengan megahnya. Nggak bisa ngebayangin kalo dulu di kiri-kanan situ bisa ada panggung² pertunjukan. Secara ini adalah di Thamrin gituloh!
Kata pak Parno lagi, kalau udah tumpah ke jalan itu, kudu hati-hati kalo mbawa pasangan. Suka-suka ‘digondol’ orang! Satu lagi. Kalo pas acara gituan, yang selalu berulang terjadi tiap tahun adalah adanya bentrokan antara pemuda² Tanah Abang sama pemuda² Tanjung Priok. Dan, pasti ada aja yang tewas. Wah, gawat juga yak!
Sayangnya ceritanya terputus di situ soalnya akunya udah keburu nyampe kantor. Mungkin lain kali bisa dilanjutin kalo ngobrol lagi sama Pak Parno.
Well, anyway, met ulang taon ye buat Jakarta. 22 Juni 2006. Jakarta udah tua. Umurnya udah 479. Semoga makin rapi, makin nggak macet, makin manusiawi, dan makin aman! Aamiin…
Hari ini hari kedua mock trading ORI (Obligasi Ritel Indonesia) atau yang di koran lebih dikenal dengan nama SUN Ritel (Surat Utang Negara - Ritel), bersama dengan para volunteer dari para AB (anggota bursa).
Mulainya nanti setelah semua proses perdagangan harian selesai dilakukan. Semoga test hari ini lancar tak kurang suatu apa
I wonder, menu makan malamnya apa ya hari ini?
Honestly, i am not a football (soccer) fan. Gue gak ngeliat apa manfaat ‘nonton’ sepakbola. Bahkan istri gue yang bekas wartawan aja lebih tau soal bola daripada gue
Nonton tim bulutangkis Indonesia main di Thomas Cup mungkin masih ada unsur nasionalisnya. Tapi kalau Piala Dunia?
Sekali lagi, kenapa ya, gue gak ngeliat ada manfaat dari nonton Piala Dunia? Kalau main sepakbola mungkin masih ada gunanya, yaitu kita jadi berolah raga. Nah, kalau nonton doang?
Would someone please convince me, apa memang nonton sepakbola itu bermanfaat? Or, buat yang setuju ama gue, would you mind nulis apa aja mudharatnya? Kalau kita mau jujur, mana yang lebih banyak? Manfaat atau mudharat-nya?
Mana yang lebih berguna di mata agama? Piala Dunia apa Piala Akhirat? Silakan isi comment atau aspirasi anda di bawah post ini.
sambil summon tausyiah koh Fahmi
Acara “Bango Cita Rasa Nusantara” yang disiarkan Trans TV tiap hari Sabtu pagi adalah satu dari acara yang senang gue tonton. Seru aja ngeliat pak Bondan Winarno nyobain hidangan-hidangan khas daerah-daerah di Indonesia. Bisa greget gitu liat dia nyobain makanan.
Pagi ini, gue agak kecewa ngeliat pak Bondan diganti, ama Harsya Subandrio. Rasanya ada yang kurang. Kalo ada pak Bondan, rasanya mata ini tidak ingin lepas dari TV, demi ngeliat gimana dia merasakan nikmatnya santapan. Nggak sekali dua, abis ngeliat acara ini, pengen juga makanan itu.. hihihi…
Tadi, entah kenapa, kok di acara itu aku malah jadi ngobrol ama istri, dan baru inget setelah doi bilang “kok acaranya nggak diliat?”. Oh iya ya, kataku dalam hati. Kok jadi nggak ngeliat ya? Apa karena udah nggak ada pak Bondan lagi?
Lima tahun lebih jadi nasabah Bank Niaga, gue melihat betapa bank ini yang dulunya menang karena service nya yang paling baik, perlahan-lahan kehilangan hal-hal yang dulu bikin gue memilih Bank Niaga sebagai tempat gue naruh duit.
Hari ini rasa kecewa gue sama Bank Niaga sampai puncaknya. Bermula dari bulan lalu saat gue mau ngganti kartu visa electron yang habis masa berlakunya. Gue kerja di gedung Bapindo, maka gue mengajukan permintaan penggantian kartu di cabang Bank Niaga gedung sebelah, yaitu Gedung BEJ, sekalian pas ada keperluan ke gedung itu.
Kecewa pertama: Kok meja customer service cuma satu ya yang berisi manusia? Bukannya dulu itu selalu ada dua yang stand by? Udah gitu, satu-satunya CS yang ada sibuk bertelepon dengan HP. Lama. Nggak selesai-selesai ngobrolnya. Ada 20 menit or setengah jam kali. Ah mungkin memang sekarang meja itu cuma jadi meja buat duduk sementara kali ya, selagi ngobrol. Bisa jadi memang sekarang dikosongkan. Gue sih nggak terlalu ambil pusing. Urusan gue waktu ambil karcis, memang diarahkan ke teller. Ya sudah, gue tunggu giliran spt biasa. Gue masih menunggu saat mbak yg duduk di CS tadi mengakhiri percakapan, lalu beranjak ke pintu dalam. Wow. Benar! Meja-meja itu sekarang disfungsional.
Kecewa kedua: Ngeliat teller menyalami tiap nasabah! Supaya berkesan dekat dan tak berjarak? Apa gunanya menyalami tapi ngelayani seperti robot? I miss Bank Niaga yang dulu, saat tidak perlu salam-salaman, tapi petugasnya bisa panggil nama ama gue. That’s what it call personal touch! Tanpa harus salam-salaman.
Kecewa ketiga: Kartu lama diambil, dibilang akan selesai dalam dua hari. Wow! Dulu kayaknya bisa selesai sehari deh. Apa mereka nggak tau nyari waktu keluar kantor itu sulit? Ah sudahlah, dalam hati. Gue coba cari waktu deh entar, walaupun gue tau itu susah. Dan benar, gue baru bisa ke sana lagi setelah nyaris satu bulan.
Kecewa keempat: Saat gue ambil, mereka sempet nyari, sampai akhirnya dibilang kartunya nggak ada. Lho, kok bisa? Sama siapa bikinnya, tanya teller, gue jawab sama mbak yang sebelah, sambil nunjuk teller sebelahnya.
Mereka lalu nyari lagi. Lama. Akhirnya bilang: demi keamanan karena sudah sebulan nggak diambil, maka kartu di-DESTROY!
Helloooo? Bukannya kalian punya data lengkap gue beserta nomor telpon? Kenapa tidak kalian pergunakan buat nelpon gue nyuruh ngambil apa gimana kek? Huh.
Sayangnya gue cuma bisa marah dalam hati. Gue coba untuk kepala dingin minta solusi. Gue bilang males kalo kudu balik lagi dan nanti nggak ada lagi barangnya.
Mereka sempet bilang maaf karena harus create ulang kartu itu. Lalu bilang, kalo mau, kartu bisa diambil di bank mana aja yang lebih mudah dicapai.
Gue bilang aja suruh kirim ke cabang Cempaka Putih deket rumah, biar istri gue yang ambilin. Mereka menyanggupi.
Kecewa kelima: Kemarin ditelpon Bank Niaga bahwa kartunya udah bisa diambil di Cabang Cempaka Putih. Hari ini istri gue nyempetin buat ke sono. And guess what, surat PIN nya ada, tapi KARTUNYA ILANG. Oh man, not again! Cari sono cari sini, nggak ketemu. Akhirnya mereka minta waktu sehari buat nyari.
Istri gue pulang dengan tangan hampa. Okelah, misal pun besok kartu gue ada, kayaknya gue udah ilfil ama service yg kayak gini. Tinggal masalah waktu aja gue bakal cabut dari Bank Niaga. Nggak mutu.
Really, I miss the old Bank Niaga. Sayang banget, yang sekarang udah beda banget ama yg dulu.
3 juni 2006, bojoku yang tercinta ulang taun
we had a nice lunch at a cozy japanese restaurant at artha gading. abis itu jalan² di sono, eh malah istriku ketemu sobat karibnya. what a pleasant surprise! hehe.. padahal nggak janjian. yang ada, kami jadi jalan² ampe sore.. hihihi..
quite a fun day today..