Sedekah Waktu

posted:  27:11:08,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, contemplation

Ada teman saya yang suka mengingatkan orang disekitarnya untuk bersedekah (uang) barang sedikit. Intinya, jika kita mendapat rejeki, jangan lupa membagi ke orang lain.

I agree. It’s a nice thing to do. Sampai tiba-tiba ada hal yang mengusik pikiran saya. Apakah bersedekah itu harus berupa duit?

Teman saya ini (sebut saja si A) tipenya gemar bekeja. Bekerja menjadi prioritas nomor satu. Nah, di sini problem muncul. Keluarga jadi nomor sekian. Semua urusan keluarga diserahkan ke istri. Urusan keperluan rumah tangga, adalah urusan istri. Urusan anak, adalah urusan istri. Sampai-sampai mengurus orang tua (dari si suami), menjadi urusan istri. Si A kerja sampai malam. Weekend pun kadang kerja. Kalau tidak kerja, weekend lebih suka dihabiskannya bersama komunitas hobinya.

Kenapa ya si A ini lupa bahwa di weekend, anaknya pasti ingin jalan-jalan sama bapaknya. Istrinya pasti juga ingin ngobrol bedua sama suaminya walaupun cuma untuk curhat tentang anaknya yang mulai bandel. Atau bahkan orangtuanya, pasti juga ingin ketemu sama anaknya.

Apa susahnya menyediakan waktu barang sejenak untuk keluarga. Kalau memang tidak bisa tiap hari, setidaknya sediakan waktu di akhir pekan. Nggak cuma sedekah duit. Sedekahkan sedikit saja waktunya. Pasti akan lebih membahagiakan buat keluarga.

Saya mencoba berada di posisi dia. Saya berandai-andai, jika saya ada di posisi dia, apa kira-kira yang menyebabkan saya begitu? Apakah karena kerja itu adalah sumber nafkah satu-satunya, maka harus menjadi nomor satu? Apakah karena waktu saya sudah habis untuk menafkahi keluarga, makanya saya berhak menikmati waktu saya sendirian tanpa keluarga? Keluarga kan cukup dikasih duit doang toh?

Banyak andaian yang bisa muncul. Tapi saya tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya. Saya bukan dia. :)

Yang saya tahu cuma satu. Kalau perusahaan sudah tidak membutuhkan seseorang, perusahaan akan dengan mudah membuangnya. Berbeda dengan keluarga. Keluarga akan selalu ada buat dia. Tapi ada syaratnya. Keluarga akan selalu ada kalau dia juga mempertahankan keberadaan keluarga itu sendiri.

Soal meluangkan waktu buat keluarga ini bukan merupakan kearifan yang saya ketahui sejak dulu. Saya juga belajar untuk melakukannya. Terutama setelah menikah.

Saat ini saya (dan istri) tinggal dengan ibu mertua saya (ibu dari istri saya). Apalagi setelah bapak mertua meninggal, tidak mungkin kami meninggalkan ibu mertua tinggal sendiri. Berbeda dengan orang tua saya sendiri yang masih punya banyak anak untuk menemani.

Soal sedekah finansial, saya dan istri selalu mencoba untuk tidak lupa menyisihkan sebagian gaji untuk ortu istri, maupun ortu saya. Kalau buat ibu mertua bisa langsung dikasih, atau dalam bentuk natura (barang konsumsi yang notabene kami juga ikut makan).

Nah, yang buat ortu saya sendiri, sebenarnya bisa saja kalau saya kirim atau transfer lewat bank, lalu mengabari lewat telepon. Namun istri saya yang waktu itu menyarankan bahwa ada baiknya sebulan sekali kita antar secara personal. Sekaligus mengunjungi orang tua saya. Walaupun untuk ukuran Jakarta cukup jauh, tapi hal-hal seperti ini tetap harus diniatkan untuk dilakukan. Itung-itung sedekah waktu. In some way, it’s a fun way to do. Just enjoy the process.

Hidup di Jakarta, terkadang memang waktu itu menjadi kemewahan yang sangat mahal. Padahal sebenarnya bisa saja tidak jadi mahal. Caranya? Bikin prioritas!

Nah, buat sidang pembaca yang budiman… (halah)… saya mau nanya nih. Mana yang lebih menjadi prioritas buat anda. Pekerjaan, atau keluarga?

Kapan terakhir anda dengar bahwa ayah anda, atau ibu anda, atau suami anda, atau istri anda, atau kakak anda, atau adik anda, atau anak anda masuk angin? Ataukah mereka menyimpan info tak penting ini dari anda, karena anda sudah terlalu sibuk dan tak punya waktu untuk mendengarkannya?


Pajak Bumi & Bangunan NAIK 50%!

posted:  21:02:08,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, politics, contemplation

Kemarin pak RT mbagiin slip tagihan PBB ke para warga. Begitu gue liat angkanya, holisit, angkanya naik 50%!

Gak heran kalo dulu bokap gue pernah ngomel-ngomel, katanya, “Kita yang udah dengan sadar mbayar pajak, tiap hari pajaknya malah dinaikin terus! Sementara tetangga-tetangga yang dengan sadar pada ngemplang pajak, sampai sekarang malah ketawa-ketiwi! Nggak adil ini namanya! Kemalasan orang pajak, kita yang nanggung! Kitanya sadar, tapi orang lain tetep seenaknya gitu. Tau gitu, dulu nggak usah mencatatkan diri deh!”

Hiks! Ternyata memang ada benernya kata bokap gue. Hanya karena ada target pendapatan pajak, HARUSNYA orang pajak lebih RAJIN mencari mereka yang BELUM bayar pajak, bukannya malah MALAS lalu serta merta malah menaikkan pajak orang yang SUDAH mbayar pajak.

Tiap tahun pendapatan naiknya dikit banget, sementara pengeluaran naiknya gila-gilaan! Bangkrut atuh kang!

Kapan Indonesia bisa lebih baik? Sampai kapan gue harus bertahan di Indonesia sampai gue bener-bener bangkrut? 5 tahun lagi? 10 tahun? 15? 20? 25?


Tak Sudi Resmikan

posted:  31:10:07,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, contemplation

Akhirnya ada juga Gubernur di Indonesia yang berani ngomong begini. Kenapa baru sekarang ya? Dan kenapa baru 1 gubernur yang berani bersikap begini soal aksesibilitas?

Berita lengkapnya: Foke Tak Sudi Resmikan Gedung Tidak Berakses Penyandang Cacat

Suatu saat saya pernah protes soal askesibilitas, dan teman saya menjawab: “Fasilitas wajib untuk orang yang normal aja masih susah didapat, contohnya air bersih. Jadi ya wajarlah kalau orang cacat seperti lo itu belum dipikirin.”

Waktu itu saya cuma bisa nyengir pahit… :p


Begitu dekat, begitu nyata!

posted:  11:10:07,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, contemplation

“Semoga kita masih bisa ketemu Ramadhan tahun depan”.
Ungkapan itu dulu rasanya biasa aja.
Tapi tahun ini, tiba-tiba rasanya lain.

Tahun lalu bapak mertua gue masih ada.
Dan dulu rasanya beliau masih akan ketemu “Ramadhan tahun depan”.
Tapi rupanya Allah berkehendak lain.
Makin mendekati Lebaran tahun ini,
makin terasa ada sesuatu yang beda dari tahun-tahun sebelumnya.
Maut, rasanya begitu dekat, begitu nyata.

Masihkah kita, akan ketemu di Ramadhan berikutnya?

Selamat Idul Fitri 1428 H.
Minal Aidin Walfaidzin.


Barang Sewaan

posted:  27:09:07,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, contemplation

Andry:
kalau pahala bisa dinominalkan, berapa ya hutang kita atas biaya sewa mata, ginjal, hati, paru-paru, jantung, semuanya…

Adi:
makanya dijaga..
nanti pas meninggal ditanyain tuh barang2x sewa..
buat apaan aja..

dari percakapan di milis kampung gajah


batu dan emas

posted:  21:09:07,  by:  ivo setyadi,  in categories:  readings, contemplation

47/303:
Orang bertanya kepada Isa: “Mengapa engkau bisa berjalan di atas air?” Isa menjawab: “Karena keteguhan iman.” Mereka melanjutkan: “Kami juga mempunyai iman yang teguh.” Isa bertanya: “Apakah bagi kalian batu, lumpur, dan emas sama?” “Tidak,” jawab mereka. Isa berkata: “Di mataku semua itu sama.”

Keterangan:
Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… - 241 H), Kitab al-Zuhd, 331.


sumber: isnet


Choices

posted:  29:06:07,  by:  ivo setyadi,  in categories:  contemplation

Kalo kamu dikasih dua pilihan:
1) Balik ke Indo buat ngurus ortu yg tinggal atu-atunya
2) Tetep kerja di US, tapi gak bisa ngurus ortu

Mana yang kamu pilih?
Mana yg nilai ukhrawi nya lebih gede?


Lagi Sedih

posted:  08:06:07,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, contemplation

Kamis Sore tadi waktu San Francisco, istriku dapet kabar. Bapak mertuaku passed away, waktu Jakarta Jumat pagi 07:20.

Yang bikin sedih adalah, kedua anaknya semua di luar negeri. Istriku ikut aku yg jadi TKI, sementara adik iparku lagi nyelesaiin beasiswa S3 di Perancis. Kasian ibu mertuaku, cuma ditemenin kerabat dan tetangga, tanpa kehadiran putra-putrinya.

Namun alhamdulillah kabarnya mendiang berpulang tanpa susah payah, hari Jumat, masih pagi pula. Kabar terakhir beliau sudah disholatkan sehabis Jumatan. Habis disholatkan beliau masih dapat upacara pelepasan dari korpsnya. Sekarang ini sedang dalam perjalanan ke Taman Bahagia, Ciledug. Kami cuma bisa memantau dari sini, di balik bumi.

Nyesel juga nggak berada di dekat beliau di saat terakhir, dan nggak bisa nganter beliau ke liang lahat. Tapi memang mungkin ini sudah merupakan jalan terbaik yang diberikanNya untuk beliau, dan kami yang ditinggalkan.

Titip doanya ya, teman-teman…


tak selalu gemilang

posted:  23:01:07,  by:  ivo setyadi,  in categories:  contemplation

impian
tak slalu dapat kurangkai gemilang …
bagai elok pulau dewata
bagai diterpa angin surgawi
nikmatnya …

impian
tak slalu dapat kujalin cemerlang …
bagai jalan di atas mega
bagai jalan di indraloka

(Lagunya Ayu Laksmi)


Matinya Rasa Kemanusiaan

posted:  22:01:07,  by:  ivo setyadi,  in categories:  entertainment, contemplation

Tidak banyak yang sadar bahwa saat Ilak Alipredi mati dibunuh dan seluruh kota Goela bersuka ria, Klara Zakanasian malah menjadi satu-satunya orang yang sedih karena kematiaannya. Padahal Klara-lah yang menawari penduduk Kota Goela, yang telah bangkrut puluhan tahun itu, 1 trilyun untuk membunuh Ilak, kekasih masa kecil Klara yang telah menghamili, mencampaknya lalu memfitnahnya dengan membeli saksi tanpa ada satupun warga kota Goela yang membantunya.

Cuma Klara yang sedih. Bukan karena Ilak mati, tapi karena Klara melihat tidak ada yang berubah dari kota Goela. Empat puluh lima tahun yang lalu warga kota itu bisa dibeli dengan uang. Sekarang pun masih.

Anyway, apapun yang dipilih oleh warga Goela, membunuh Ilak atau tidak, Klara memang. Tapi bayarannya memang mahal. Hell hath no fury.

Jarang Teater Koma menampilkan cerita adaptasi untuk play-nya. Namun kali ini Teater Koma mengadaptasi karya Friedrich Dürrenmatt tahun 1956 berjudul asli Der Besuch der alten Dame (The Visit of the Old Lady). Teater Koma membesut judul Kunjungan Cinta untuk hajatan mereka yang ke-111 ini.

Kali ini Butet Kertaradjasa, Ratna Riantiarno dan kawan-kawan tampil disiplin pada script. Ceritanya pun masih 100% setia pada cerita aslinya. Tidak seperti adaptasi dalam film The Visit (1964, Ingrid Bergman & Anthony Quinn) yang akhir ceritanya sedikit berbeda. Kali ini kota Gullen menjadi kota Goela. Nama Klara Zachanasian jadi Klara Zakanasian. Alfred Ill jadi Ilak Alipredi. Tapi selain beda-beda kecil seperti adaptasi nama tadi, eksekusinya perfect seperti naskah aslinya.

Anyway, ceritanya sendiri memang berat, sehingga saat selesai, interpretasi penonton pun bermacam-macam. Walaupun Teater Koma biasanya tahu bahwa audiens Indonesia kalau tidak “dikasih tau maksudnya” suka nggak ngerti, tapi kali ini Teater Koma memilih loyal pada cerita aslinya. Tidak ada narasi “moral of the story” sama sekali. Interpretasi benar-benar bebas buat penonton.

Ada yang menyebut “bersenang-senang di atas penderitaan orang lain”, ada yang menyebut “balas dendam yang kebablasan” dst. Tapi saya sendiri lebih senang menyebut cerita ini sebagai cermin matinya rasa kemanusiaan warga kota Goela, sejak dulu, dan belum berubah sampai sekarang. Sebenarnya cermin ini bisa kita pakai juga untuk melihat keadaan sosial kita sendiri saat ini.

Sayang cermin ini sepertinya cuma jadi tontonan semata. Dan penonton pun dengan tanpa dosa tetap menyalakan HP, dan memotret cekrek-cekrek-cekrek-cekrek (baca: bersuara keras) tanpa peduli kiri kanan. :)

Sungguh. Rasa kemanusiaan kita sudah mati.


Ivo Setyadi

November 2009
M T W T F S S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts:

Categories:

Archives:

Search:


Shouts:

Links:

Other:

Meta:


Rank

Blogsome Ad