Sempurna

posted:  31:08:07,  by:  ivo setyadi,  in categories:  entertainment

Kau begitu sempurna

Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan s’lalu memujamu
Di setiap langkahku, ‘ku kan s’lalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku
(’Ku) takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ‘ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu … sempurna

Kau genggam tanganku, saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata, yang hapus semua sesalku

Janganlah kau tinggalkan diriku
(’Ku) takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ‘ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu … sempurna

- Andra and the backbone -


The Photograph

posted:  30:07:07,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, entertainment

Ini film bagus banget. Gue gak mau nulis synopsisnya atau spoilernya di sini. Cuma mau bilang Shanty mainnya bagus banget. Lebih bagus dari waktu main Berbagi Suami. Mainnya total.

Propertinya bagus banget. They’ve really done their homework. Sinematografinya juga perfect. Very attentive to details. Nggak cuma visual, musicnya juga seamless. Bravo buat Aksan & wife.

Sayang yang nonton sedikit. I wonder why people don’t like to see good movies like this one?


Matinya Rasa Kemanusiaan

posted:  22:01:07,  by:  ivo setyadi,  in categories:  entertainment, contemplation

Tidak banyak yang sadar bahwa saat Ilak Alipredi mati dibunuh dan seluruh kota Goela bersuka ria, Klara Zakanasian malah menjadi satu-satunya orang yang sedih karena kematiaannya. Padahal Klara-lah yang menawari penduduk Kota Goela, yang telah bangkrut puluhan tahun itu, 1 trilyun untuk membunuh Ilak, kekasih masa kecil Klara yang telah menghamili, mencampaknya lalu memfitnahnya dengan membeli saksi tanpa ada satupun warga kota Goela yang membantunya.

Cuma Klara yang sedih. Bukan karena Ilak mati, tapi karena Klara melihat tidak ada yang berubah dari kota Goela. Empat puluh lima tahun yang lalu warga kota itu bisa dibeli dengan uang. Sekarang pun masih.

Anyway, apapun yang dipilih oleh warga Goela, membunuh Ilak atau tidak, Klara memang. Tapi bayarannya memang mahal. Hell hath no fury.

Jarang Teater Koma menampilkan cerita adaptasi untuk play-nya. Namun kali ini Teater Koma mengadaptasi karya Friedrich Dürrenmatt tahun 1956 berjudul asli Der Besuch der alten Dame (The Visit of the Old Lady). Teater Koma membesut judul Kunjungan Cinta untuk hajatan mereka yang ke-111 ini.

Kali ini Butet Kertaradjasa, Ratna Riantiarno dan kawan-kawan tampil disiplin pada script. Ceritanya pun masih 100% setia pada cerita aslinya. Tidak seperti adaptasi dalam film The Visit (1964, Ingrid Bergman & Anthony Quinn) yang akhir ceritanya sedikit berbeda. Kali ini kota Gullen menjadi kota Goela. Nama Klara Zachanasian jadi Klara Zakanasian. Alfred Ill jadi Ilak Alipredi. Tapi selain beda-beda kecil seperti adaptasi nama tadi, eksekusinya perfect seperti naskah aslinya.

Anyway, ceritanya sendiri memang berat, sehingga saat selesai, interpretasi penonton pun bermacam-macam. Walaupun Teater Koma biasanya tahu bahwa audiens Indonesia kalau tidak “dikasih tau maksudnya” suka nggak ngerti, tapi kali ini Teater Koma memilih loyal pada cerita aslinya. Tidak ada narasi “moral of the story” sama sekali. Interpretasi benar-benar bebas buat penonton.

Ada yang menyebut “bersenang-senang di atas penderitaan orang lain”, ada yang menyebut “balas dendam yang kebablasan” dst. Tapi saya sendiri lebih senang menyebut cerita ini sebagai cermin matinya rasa kemanusiaan warga kota Goela, sejak dulu, dan belum berubah sampai sekarang. Sebenarnya cermin ini bisa kita pakai juga untuk melihat keadaan sosial kita sendiri saat ini.

Sayang cermin ini sepertinya cuma jadi tontonan semata. Dan penonton pun dengan tanpa dosa tetap menyalakan HP, dan memotret cekrek-cekrek-cekrek-cekrek (baca: bersuara keras) tanpa peduli kiri kanan. :)

Sungguh. Rasa kemanusiaan kita sudah mati.


Boots’ song

posted:  26:04:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  junk, entertainment

I love my boots, my boots and me,
they help me swing from tree to tree.

I feel so hap-py wear them on my feet,
we’re best friend yea my boots and me.

I love my boots, yea my boots and me.
I love my boots, yea my boots and me!


Chef Died!

posted:  24:03:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, entertainment, readings

Oh no, they killed Chef
by DAVID BAUDER

ISAAC Hayes’s Chef character got a true South Park send-off - seemingly killed off but mourned as a jolly old guy whose brains were scrambled by the “Super Adventure Club”.

The thinly disguised satire broadcast on Wednesday night in the US continued the cartoon’s feud with Scientologists.

The soul singer has voiced the Chef character in South Park since 1997, but left recently because of what he called the animated show’s religious “intolerance and bigotry”. Founders Matt Stone and Trey Parker said that Hayes, a Scientologist, was angry that South Park mocked the religion in an episode last November.

Hayes did not participate in making Wednesday’s episode; the character’s lines appeared to be patched together through tapes of past dialogue.

The children try to rescue Chef, but in the end he turns to head back to the “Super Adventure Club” - until he falls off a bridge on to rocks, is burned, stabbed and mauled by a mountain lion and bear.

Then he apparently dies.

[source]


Doraemon Theme Song

posted:  20:03:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, entertainment, readings

konnakoto ii na (aku ingin begini)
dekitara ii na (aku ingin begitu)
konna yume (ingin ini)
anna yume (ingin itu)
ippai arukedo (banyak sekali)

minna! minna! minna! (semua! semua! semua!)
kanaete kureru (dapat dikabulkan)
fushigi na pokke - de kanaete kureru (dapat dikabulkan - dengan kantong ajaib)

sora wo jiyuuni tobitaina! (aku ingin terbang bebas di angkasa)
“HAI! TAKEKOPUTA!” (HAI! baling-baling bambu!)

an an an tottemo daisuki (na na na aku sayang sekali)
Doraemon
an an an tottemo daisuki (na na na aku sayang sekali)
Doraemon

take = bambu. takekoputa = take-copter = bambu-copter.
fushigi = ajaib. fushigi na pokke = pocket ajaib.


Hidayah apa!

posted:  03:03:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, entertainment, contemplation

Sinetron Hidayah. Semakin ditonton, malah makin nggak dapet hidayah! Yang ada malah penonton dapat ‘tuntunan’ bagaimana caranya mencurangi, menjahati, menipu, nyelingkuhi, mendzalimi orang lain, lalu penonton diajak ‘nyukurin’ kalo si penjahat kena azab.

Nonton orang di-azab kok seneng!

Yang bikin gue kesel adalah kejadian berikut ini. Beberapa waktu yg lalu ada temen yang ibunya meninggal. Saat dimandikan, kebetulan jenazah memuntahkan cairan. Tiba-tiba saja terjadi bisik-bisik ini-itu nuduh ini-itu. Astaga! Mudah sekali orang nuduh yang enggak-enggak. Padahal harusnya hal kayak gitu itu biasa sekali terjadi. Sedikit banyak pasti ada andil dari sinetron² itu pada pola pikir masyarakat.

Selain Hidayah, banyak sinetron yang model begini. Katanya religius, tapi cuma tercebur ke genre “orang jahat matinya diazab”. Sinetron² itu sudah mendidik masyarakat dengan didikan yang menyesatkan.

Mbok ya kalau memang mau bikin sinetron religius itu yg macam “Maha Kasih” (sabtu 19:00) gitu lho. Lebih bersifat tuntunan moral. Atau sinetronnya Mbak Neno Warisman. Lupa judulnya. Itu juga bagus. Nggak kudu ada mati-diazab.


Lord of War

posted:  16:09:05,  by:  ivo setyadi,  in categories:  entertainment

It begins with a startling title sequence: a bullet travels from destination to destination, from box to hand to gun, finally coming to rest within the soft, fleshy forehead of a young boy. After that, “Lord of War” only gets more audacious …

read more on:
Nicolas Cage wants people to think about who profits from violence.
Arms and the man behind Lord of War


Tentang GIE

posted:  08:08:05,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, entertainment

Setelah segala keribetan acara lamaran adik selesai Minggu siang, dan setelah kondisi badan agak mendingan (weekend ini gue agak kurang enak badan), akhirnya minggu sore sempet juga nonton Gie sama bini. Overall it’s a good movie. Good in research, cinematic, dramaturgy, musical score, property n stuff. Salut buat seluruh pendukung film ini.

Komentar dari gue: Nicholas main bagus. Buat yang dari awal udah antipati, tolong deh liat film ini dulu sebelum protes. Jangan harap Nicholas main cheesy. Yang nyari film kacangan pasti nyesel. Trus, yang jadi Gie & Han muda juga bagus. Bakalan naik daun itu anak-anak. Sayangnya Han gede kok jadi beda. Oh ya, ada baiknya baca bukunya dulu sebelum liat filmnya. Walaupun memang tidak ada korelasi 1-1 antara buku dan film nya, it will helps you alot to understand certain things in this movie.

Komentar dari bini: beberapa kali adegan bokapnya Gie punya anjing sekaligus kucing di rumahnya sampai-sampai dia bisa “mengelus kucing dengan tangan kanan sembari mengelus anjing di tangan kiri” itu simbolisme banget, ngelambangin bung Karno yang selalu mencoba menyeimbangkan/merangkul baik tentara maupun komunis. Simbolisme lain saat Gie pergi dari rumah cewenya, diperlihatkan berjalan menuju ke kegelapan sampai dengan punggungnya hilang sama sekali dari pandangan, itu ngelambangin orang yang pergi dan nggak bakal balik lagi. Cukup surprise juga denger analisis kayak gitu, tapi ya maklumlah, doi anak antrop.

Kalau taun depan ada FFI lagi, gue rasa GIE bakal jadi kandidat kuat buat best movie. Yang pasti, kalau DVD nya nongol, pasti bakal gue koleksi. Buat nambahin koleksi Indonesian movie gue yang kadang aneh, dan belum tentu semua orang punya. Lha wong G30S aja ada :D

BTW, ada yang punya or tau dimana gue bisa dapet Oeroeg? Been searching, no luck so far.


Da Vinci Code

posted:  25:04:05,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, entertainment, readings

Da Vinci Code

Finished reading Da Vinci Code last night. Quite an interesting story. I can imagine the research Dan Brown had gone thru. Too much research actually. Too much to make the story appears to be grandeur. But forgetting to end the thrill with a kick.

It’s like hiking a hill. The climax lies in the middle. No more real excitement after you’re there.

And found some flaws in the plot too.

But lest not forget the new envisions this book has to offer. They are, indeed, very interesting. Well, at least for me.


Ivo Setyadi

November 2009
M T W T F S S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts:

Categories:

Archives:

Search:


Shouts:

Links:

Other:

Meta:


Rank

Blogsome Ad