Bakso Urat

posted:  22:06:07,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, food

Istriku nemu beef tendon meatballs di supermarket Marina. Lagian kok ya iseng nyobain supermarket yg jauh dari mana-mana gini. Ternyata banyak barang Indonesia di situ, termasuk kecap ABC segala! Dan yg lebih mengagetkan lagi, kata doi, saat seorang supervisor di supermarket itu nyuruh petugasnya melakukan sesuatu, ternyata pakai basa Indonesia! :p

Biasanya kalo ketemu orang Indonesia itu sesama karyawan, mahasiswa atau istri/suami mereka lah setidaknya. Jarang ketemu yg kerja kasaran. Biasanya yang kerja kasaran nemunya yg dari Amerika Latin, atau Asia Timur. Kaget juga denger orang berbahasa Indonesia nemu di jalan gini, kata istriku. “Sampe bengong dengernya…”, she said.

Btw, sore ini istriku masak bakso urat, dibikin berkuah ala Pho Hoa. Nyam…


Kopi Luwak: $175/pound!

posted:  11:01:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  food, readings

Pricey coffee good to the last dropping

NEW YORK (Reuters) - Would you pay $175 for a pound of coffee beans which had passed through the backside of a furry mammal in Indonesia?

Apparently, some coffee lovers wanting to treat themselves to something special are lapping it up.

Kopi Luwak beans from Indonesia are rare and expensive, thanks to a unique taste and aroma enhanced by the digestive system of palm civets, nocturnal tree-climbing creatures about the size of a large house cat.

“People like coffee. And when they want to treat themselves, they order the Kopi Luwak,” said Isaac Jones, director of sales for Tastes of The World, an online supplier of gourmet coffee, tea and cocoa.

Despite being carnivorous, civets eat ripe coffee cherries for treats. The coffee beans, which are found inside of the cherries, remain intact after passing through the animal.

Civet droppings are found on the forest floor near coffee plantations. Once carefully cleaned and roasted, the beans are sold to specialty buyers.

Jones said sales for Kopi Luwak rose three-fold just before the Christmas holiday compared with the first half of the year. The company started selling the rare coffee in February 2005.

He expects to sell around 200 pounds of the coffee this year, with orders coming from North America and Europe. So far, most of the orders have been from California.

Indonesia produces only about 500 kilograms, or roughly 1,100 pounds, of the coffee each year, making it extremely expensive and difficult to find.

“It’s the most expensive coffee that we know about in the world,” said Jones.

By comparison Jamaica’s Blue Mountain coffee, considered to be an expensive type, sells for $35 to $40 per pound, while a pound of Colombia’s Supremo arabicas can be bought for about $14.

Reuters


Terima Kasih Untuk Tidak Mubazir

posted:  08:09:05,  by:  ivo setyadi,  in categories:  food, contemplation

Siapa yang paling berbahagia saat pesta pernikahan berlangsung? Bisa jadi kedua mempelai yang menunggu detik-detik memadu kasih. Meski lelah menderanya namun tetap mampu tersenyum hingga tamu terakhir pun. Berbulan bahkan hitungan tahun sudah mereka menunggu hari bahagia ini. Mungkin orang tua si gadis yang baru saja menuntaskan kewajiban terakhirnya dengan mendapatkan lelaki yang akan menggantikan perannya membimbing putrinya untuk langkah selanjutnya setelah hari pernikahan. Atau bahkan ibu pengantin pria yang terlihat terus menerus sumringah, ia membayangkan akan segera menimang cucu dari putranya. “Aih, pasti segagah kakeknya,” impinya.

Para tamu yang hadir dalam pesta tersebut tak luput terjangkiti aura kebahagiaan, itu nampak dari senyum, canda, dan keceriaan yang tak hentinya sepanjang mereka berada di pesta. Bagi sanak saudara dan kerabat orang tua kedua mempelai, bisa jadi momentum ini dijadikan ajang silaturahim, kalau perlu rapat keluarga besar pun bisa berlangsung di sela-sela pesta. Sementara teman dan sahabat kedua mempelai menyulap pesta pernikahan itu menjadi reuni yang tak direncanakan.

Mungkin kalau sengaja diundang untuk acara reuni tidak ada yang hadir, jadilah reuni satu angkatan berlangsung. Dan satu lagi, bagi mereka yang jarang-jarang menikmati makanan bergizi plus, inilah saatnya perbaikan gizi walau bermodal uang sekadarnya di amplop yang tertutup rapat.

Nyaris tidak ada hadirin yang terlihat sedih atau menangis di pesta itu kecuali air mata kebahagiaan. Kalau pun ada, mungkin mereka yang sakit hati pria pujaannya tidak menikah dengannya. Atau para pria yang sakit hati lantaran primadona kampungnya dipersunting pria dari luar kampung. Namun tetap saja tak terlihat di pesta itu, mungkin mereka meratap di balik dinding kamarnya sambil memeluk erat gambar pria yang baru saja menikah itu. Dan pria-pria sakit hati itu hanya bisa menggerutu dan menyimpan kecewanya dalam hati ketika harus menyalami dan memberi selamat kepada wanita yang harus mereka relakan menjadi milik pria lain.

Apa benar-benar tidak ada yang bersedih di pesta itu? Semula saya mengira yang paling bersedih hanya tukang pembawa piring kotor yang pernah saya ketahui hanya mendapat upah sepuluh ribu rupiah plus sepiring makan gratis untuk ratusan piring yang ia angkat. Sepuluh ribu rupiah yang diterima setelah semua tamu pulang itu, sungguh tak cukup mengeringkan peluhnya. Sedih, pasti.

Tak lama kemudian saya benar-benar mendapati orang yang lebih bersedih di pesta itu. Mereka memang tak terlihat ada di pesta, juga tak mengenakan pakaian bagus lengkap dengan dandanan yang tak biasa dari keseharian di hari istimewa itu. Mereka hanya ada di bagian belakang dari gedung tempat pesta berlangsung, atau bagian tersembunyi dengan terpal yang menghalangi aktivitas mereka di rumah si empunya pesta. Mereka lah para pencuci piring bekas makan para tamu terhormat di ruang pesta.

Bukan, mereka bukan sedih lantaran mendapat bayaran yang tak jauh berbeda dengan pembawa piring kotor. Mereka juga tidak sedih hanya karena harus belakangan mendapat jatah makan, itu sudah mereka sadari sejak awal mengambil peran sebagai pencuci piring. Juga bukan karena tak sempat memberikan doa selamat dan keberkahan untuk pasangan pengantin yang berbahagia, meski apa yang mereka kerjakan mungkin lebih bernilai dari doa-doa para tamu yang hadir.

Air mata mereka keluar setiap kali memandangi nasi yang harus terbuang teramat banyak, juga potongan daging atau makanan lain yang tak habis disantap para tamu. Tak tertahankan sedih mereka saat membayangkan tumpukan makanan sisa itu dan memasukkannya dalam karung untuk kemudian singgah di tempat sampah, sementara anak-anak mereka di rumah sering harus menahan lapar hingga terlelap.

Andai para tamu itu tak mengambil makanan di luar batas kemampuannya menyantap, andai mereka yang berpakaian bagus di pesta itu tak taati nafsunya untuk mengambil semua yang tersedia padahal tak semua bisa masuk dalam perut mereka, mungkin akan ada sisa makanan untuk anak-anak di panti anak yatim tak jauh dari tempat pesta itu.

Andai pula mereka mengerti buruknya berbuat mubazir, mungkin ratusan anak yatim dan kaum fakir bisa terundang untuk ikut menikmati hidangan dalam pesta itu.

Sekadar usul untuk Anda yang akan melaksanakan pesta pernikahan, tidak cukup kalimat “Mohon Doa Restu” dan “Selamat Menikmati” yang tertera di dinding pesta, tapi sertakan juga tulisan yang cukup besar “Terima Kasih untuk Tidak Mubazir”. Mungkinkah?


Babe Lili - Cabang ke-2 ?

posted:  25:08:05,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, food

Hari ini sama temen-temen kantor makan di ikan bakar Babe Lili, tapi bukan di Babe Lili yang di Kebon Sirih, melainkan di Dharmawangsa.

Nggak tau deh apakah ini cabang resmi apa bukan. Yang pasti sih tempatnya lebih luas, lebih bersih, dengan parkir lebih banyak dibanding yang di Kebon Sirih. Berangkat dari kantor baru jam 12:30. Agak pesimis juga bahwa masih bakal dapet tempat, karena Babe Lili kan terkenal selalu penuh. Eh ternyata masih banyak tempat kosong. Mungkin karena relatif baru jadi belum sepenuh resto aslinya.

Pelayanannya cukup cepat, dan rasanya masih tetep enak. “Lebih enak dibanding Putra Bone, ” kata Made. Cuma harganya agak lebih mahal. Sepotong ikan ayam-ayam (or kambing-kambing) dihargai 20 rebu. Wah bisa tekor kalo gue tiap hari makan di situ. Untungnya siang itu judulnya ditraktir.. he he he.. Makasih om Chand.


ABUBA!

posted:  27:04:05,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, food

Sore ini semua anak IT ditraktir Boss makan di Abuba! Dalam rangka ulang tahun yang sebenernya udah jatuh minggu lalu tapi belum sempet nraktir. Moga-moga semua kerjaan di kantor hari ini cepet kelar n nggak hujan. Biar nggak kemaleman pulangnya nanti. Kesian nyonyah di rumah.

Oke deh Boss, aye ngucapin: Live long and prosper! :-)


Ivo Setyadi

July 2009
M T W T F S S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts:

Categories:

Archives:

Search:


Shouts:

Links:

Other:

Meta:


Rank

Blogsome Ad