Pajak Bumi & Bangunan NAIK 50%!

posted:  21:02:08,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, politics, contemplation

Kemarin pak RT mbagiin slip tagihan PBB ke para warga. Begitu gue liat angkanya, holisit, angkanya naik 50%!

Gak heran kalo dulu bokap gue pernah ngomel-ngomel, katanya, “Kita yang udah dengan sadar mbayar pajak, tiap hari pajaknya malah dinaikin terus! Sementara tetangga-tetangga yang dengan sadar pada ngemplang pajak, sampai sekarang malah ketawa-ketiwi! Nggak adil ini namanya! Kemalasan orang pajak, kita yang nanggung! Kitanya sadar, tapi orang lain tetep seenaknya gitu. Tau gitu, dulu nggak usah mencatatkan diri deh!”

Hiks! Ternyata memang ada benernya kata bokap gue. Hanya karena ada target pendapatan pajak, HARUSNYA orang pajak lebih RAJIN mencari mereka yang BELUM bayar pajak, bukannya malah MALAS lalu serta merta malah menaikkan pajak orang yang SUDAH mbayar pajak.

Tiap tahun pendapatan naiknya dikit banget, sementara pengeluaran naiknya gila-gilaan! Bangkrut atuh kang!

Kapan Indonesia bisa lebih baik? Sampai kapan gue harus bertahan di Indonesia sampai gue bener-bener bangkrut? 5 tahun lagi? 10 tahun? 15? 20? 25?


Kawat Gulung rasa MayDay

posted:  01:05:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, work, readings, politics

Jakarta 6:30

Jalanan di depan Istana Negara pagi ini sudah dipasangi kawat gulung besar, dua tumpuk. Rupanya persiapan polisi menghadapi MayDay (1 Mei - Hari Buruh Internasional) tidak main-main.

Belok ke arah Medan Merdeka Barat, bisa kelihatan bahwa di dalam kompleks taman MoNas, sekian truk polisi terparkir, di samping sekian banyak tenda polisi. Rupanya banyak polisi yang spent the night di tenda tsb. Kesian juga ye…

Tidak cuma polisi, satpol PP pun juga dikerahkan. Di beberapa titik di Jalan Merdeka, dan Thamrin mereka juga terlihat berbaris untuk deployment.

Di bundaran HI, beberapa truk polisi terlihat parkir dekat kedutaan Inggris. Tak cuma itu, satu unit water cannon juga sudah siaga di tempatnya.

Tidak kurang dari itu, saat gue masuk Sudirman, dari arah berlawanan (dari arah Polda Semanggi) datang lagi pasukan polisi diawali dengan sebuah panser, beberapa jip polisi, lalu diikuti sekitar 20 truk brimob, berjalan ke arah HI/MoNas. Nggak tau deh bakal deploy ke mana.

Buruh sendiri menurut berita kemarin, sudah pada bersiap di Kawasan Industri Pulogadung (apa Cakung ya?). Itu baru yg di situ. Dari Tangerang juga sudah ada persiapan. Polisi sendiri juga sudah berusaha mengurangi dengan cara menyuruh kendaraan pengangkut buruh dari luar kota untuk balik arah :p

Fiuh, it’s gonna be a tough day today. Makanya gue sengaja berangkat pagi. Biar nggak ketemu rame-rame.

Yah, semoga nggak terjadi apa-apa deh…


DIGITAL GAP

posted:  28:02:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, readings, politics, contemplation

by Ivo Setyadi

Dengan adanya internet, the old economy had died. Internet telah memunculkan apa yang disebut internet economy dimana internet memegang peranan penting di dalamnya. Cara berbisnis sudah tidak lagi mengikuti kaidah ilmu ekonomi yang diajarkan di sekolahan dan bangku kuliah. Buktinya, di sekolah, anda tidak diajari untuk berjualan atau melelang barang anda di internet.

This new breed of economy, telah melahirkan jutawan-jutawan baru di dunia. Bukan dari hasil berbisnis cara lama, tapi lewat internet. Google adalah salah satu contoh nyata. Mereka yang menguasai internet, akan menguasai uang di dunia masa kini.

Ciri dari internet economy adalah, uang sudah bukan didapat dari sektor riil lagi, tapi dari hal-hal yang sifatnya intangible. Apakah Google menjual barang-barang riil? Tidak. Yang saat ini banyak menghasilkan uang misalnya adalah: hak cipta, SDM yang unggul, software, dan lain-lain.

Semua orang tahu, Mariah Carey sudah tidak laku lagi. Tapi begitu dia menjual album barunya melalui internet (99 cent/lagu) dan tidak melalui label, dia tidak jadi bangkrut. Perusahaan-perusahaan konsultan besar, mereka pun tidak menjual barang, melainkan isi kepala, dan jasa. Kaya dari software? Orang terkaya di dunia, Bill Gates, buktinya. Anda tahu berapa asset Google? Sebanyak harta negara Republik Indonesia ini.

Namun internet economy juga punya sisi buruk. Sisi buruk dari internet economy adalah digital gap. Mereka yang menguasai teknologi, akan dengan mudah menguasai mereka yang tidak menguasainya. Contoh yang paling mudah adalah, mereka yang tiap hari connect ke internet dapat dengan mudah menyerap informasi-informasi penting yang mereka perlukan untuk memutuskan banyak hal. Begitu mereka berhadapan dengan orang-orang yang buta internet dan informasi, ketimpangan pun terjadi. Penguasa internet akan makin jadi penguasa. Yang buta internet akan makin terjajah.

Indonesia, saat ini telah resmi kalah oleh Vietnam dalam hal penetrasi internet. Harga per kilobyte di Vietnam saat ini sudah lebih murah dari Indonesia. Thanks to monopoli Telkom, Indonesia akan jadi negara terjajah dan ketinggalan dalam internet economy. Belum lagi hal ini ikut diperparah dengan akan adanya pajak bandwidth.

Dan terakhir yang tak kalah hebohnya adalah razia CD import, dengan dalih pelanggaran hukum kepabean ataupun pelanggaran hak cipta yang merupakan kampanye dari negara barat. Padahal tidak semua CD yang diimport itu melanggar lho. CD-CD opensource kan memang gratis. Belum lagi CD-CD yang memang disertakan untuk pembelian komputer baru. Tapi DepKomInfo sepertinya melakukan pukul rata. Semua harus dirazia. Semua harus melalui badan sensor. Entah badan sensor mana yang melakukan.

Pemerintah tidak sadar bahwa hal-hal di atas sama saja memvonis suntik mati untuk bangsa Indonesia ke depannya. There is only a little chance for this country to survice in the new internet economy.

So, face it guys. As long as you live in Indonesia, anda cuma akan jadi bangsa terjajah di era economy baru ini. Sedihnya lagi, yang menjajah adalah (bangsa lain lewat tangan) pemerintah kita sendiri. Sebelum ada kesadaran dari para pengambil keputusan, kita akan terus begini.

Lebih baik pindah ke Thailand, Malaysia atau bahkan Vietnam kalau anda ingin maju.


Bali Bomb at Raja’s Cafe - caught on amateur video

posted:  03:10:05,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, politics

Bali Bomb at Raja\'s Cafe - caught on amateur video

source: Grisly photos of suicide bombers released


A HUGE DEBT for rakyat indonesia…

posted:  30:06:05,  by:  ivo setyadi,  in categories:  readings, politics, contemplation

From an article here. Here’s some excerpt:

AMY GOODMAN: Okay. Explain the company you worked for.

JOHN PERKINS: Well, the company I worked for was a company named Chas. T. Main in Boston, Massachusetts. We were about 2,000 employees, and I became its chief economist. I ended up having fifty people working for me. But my real job was deal-making. It was giving loans to other countries, huge loans, much bigger than they could possibly repay. One of the conditions of the loan–let’s say a $1 billion to a country like Indonesia or Ecuador–and this country would then have to give ninety percent of that loan back to a U.S. company, or U.S. companies, to build the infrastructure–a Halliburton or a Bechtel. These were big ones. Those companies would then go in and build an electrical system or ports or highways, and these would basically serve just a few of the very wealthiest families in those countries. The poor people in those countries would be stuck ultimately with this amazing debt that they couldn’t possibly repay. A country today like Ecuador owes over fifty percent of its national budget just to pay down its debt. And it really can’t do it. So, we literally have them over a barrel. So, when we want more oil, we go to Ecuador and say, “Look, you’re not able to repay your debts, therefore give our oil companies your Amazon rain forest, which are filled with oil.” And today we’re going in and destroying Amazonian rain forests, forcing Ecuador to give them to us because they’ve accumulated all this debt. So we make this big loan, most of it comes back to the United States, the country is left with the debt plus lots of interest, and they basically become our servants, our slaves. It’s an empire. There’s no two ways about it. It’s a huge empire. It’s been extremely successful.

AMY GOODMAN: We’re talking to John Perkins, author of Confessions of an Economic Hit Man. You say because of bribes and other reason you didn’t write this book for a long time. What do you mean? Who tried to bribe you, or who — what are the bribes you accepted?

JOHN PERKINS: Well, I accepted a half a million dollar bribe in the nineties not to write the book.

AMY GOODMAN: From?

JOHN PERKINS: From a major construction engineering company.

AMY GOODMAN: Which one?

… [deleted]

Check the link above for the rest of the story.


Ivo Setyadi

May 2008
M T W T F S S
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts:

Categories:

Archives:

Search:


Shouts:

Links:

Other:

Meta:


Rank

Blogsome Ad