Selamat Tahun Baru! :D

posted:  01:03:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, readings

1 Maret. Selamat Tahun Baru! hehe…

Lho? Kok?

Soalnya, Maret dulunya adalah bulan pertama. March/Mars/Ares/Aries adalah dewa perang. Dia yang selalu memimpin barisan. Jadi 1 Maret dulunya adalah Tahun Baru.

Bukti: September bulan ke 9, padahal septa artinya 7. Oktober bulan ke 10, padahal octa artinya 8. Bulan apa yang pertama? Maret.

Itulah mengapa penanggalan zodiak klasik dimulai dengan Aries. Orang-orang jaman sekarang aja yang sok tau lalu memulainya dengan Aquarius bahkan Sagitarius.

Selain itu, musim semi juga dianggap sebagai permulaan segala sesuatu yang baru, termasuk tahun yang baru. Biasanya awal musim semi juga jatuh di bulan Maret.

Hal ini juga menjawab kenapa Februari cuma 28 atau 29. Kenapa tidak utuh? Soalnya, sebagai bulan terakhir, Februari yang selalu jadi tumbal kalau ada koreksi perbintangan.

So, selamat tahun baru guys :)


Demi Masa

posted:  01:03:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  readings, contemplation

“… ingat lima perkara,
sebelum lima perkara:

sehat sebelum sakit,
muda sebelum tua,
kaya sebelum miskin,
lapang sebelum sempit,
hidup sebelum mati”

(~raihan)


DIGITAL GAP

posted:  28:02:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, readings, politics, contemplation

by Ivo Setyadi

Dengan adanya internet, the old economy had died. Internet telah memunculkan apa yang disebut internet economy dimana internet memegang peranan penting di dalamnya. Cara berbisnis sudah tidak lagi mengikuti kaidah ilmu ekonomi yang diajarkan di sekolahan dan bangku kuliah. Buktinya, di sekolah, anda tidak diajari untuk berjualan atau melelang barang anda di internet.

This new breed of economy, telah melahirkan jutawan-jutawan baru di dunia. Bukan dari hasil berbisnis cara lama, tapi lewat internet. Google adalah salah satu contoh nyata. Mereka yang menguasai internet, akan menguasai uang di dunia masa kini.

Ciri dari internet economy adalah, uang sudah bukan didapat dari sektor riil lagi, tapi dari hal-hal yang sifatnya intangible. Apakah Google menjual barang-barang riil? Tidak. Yang saat ini banyak menghasilkan uang misalnya adalah: hak cipta, SDM yang unggul, software, dan lain-lain.

Semua orang tahu, Mariah Carey sudah tidak laku lagi. Tapi begitu dia menjual album barunya melalui internet (99 cent/lagu) dan tidak melalui label, dia tidak jadi bangkrut. Perusahaan-perusahaan konsultan besar, mereka pun tidak menjual barang, melainkan isi kepala, dan jasa. Kaya dari software? Orang terkaya di dunia, Bill Gates, buktinya. Anda tahu berapa asset Google? Sebanyak harta negara Republik Indonesia ini.

Namun internet economy juga punya sisi buruk. Sisi buruk dari internet economy adalah digital gap. Mereka yang menguasai teknologi, akan dengan mudah menguasai mereka yang tidak menguasainya. Contoh yang paling mudah adalah, mereka yang tiap hari connect ke internet dapat dengan mudah menyerap informasi-informasi penting yang mereka perlukan untuk memutuskan banyak hal. Begitu mereka berhadapan dengan orang-orang yang buta internet dan informasi, ketimpangan pun terjadi. Penguasa internet akan makin jadi penguasa. Yang buta internet akan makin terjajah.

Indonesia, saat ini telah resmi kalah oleh Vietnam dalam hal penetrasi internet. Harga per kilobyte di Vietnam saat ini sudah lebih murah dari Indonesia. Thanks to monopoli Telkom, Indonesia akan jadi negara terjajah dan ketinggalan dalam internet economy. Belum lagi hal ini ikut diperparah dengan akan adanya pajak bandwidth.

Dan terakhir yang tak kalah hebohnya adalah razia CD import, dengan dalih pelanggaran hukum kepabean ataupun pelanggaran hak cipta yang merupakan kampanye dari negara barat. Padahal tidak semua CD yang diimport itu melanggar lho. CD-CD opensource kan memang gratis. Belum lagi CD-CD yang memang disertakan untuk pembelian komputer baru. Tapi DepKomInfo sepertinya melakukan pukul rata. Semua harus dirazia. Semua harus melalui badan sensor. Entah badan sensor mana yang melakukan.

Pemerintah tidak sadar bahwa hal-hal di atas sama saja memvonis suntik mati untuk bangsa Indonesia ke depannya. There is only a little chance for this country to survice in the new internet economy.

So, face it guys. As long as you live in Indonesia, anda cuma akan jadi bangsa terjajah di era economy baru ini. Sedihnya lagi, yang menjajah adalah (bangsa lain lewat tangan) pemerintah kita sendiri. Sebelum ada kesadaran dari para pengambil keputusan, kita akan terus begini.

Lebih baik pindah ke Thailand, Malaysia atau bahkan Vietnam kalau anda ingin maju.


Time to Abandon Matrix

posted:  27:02:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, readings

Bertolak belakang dengan iklan gencar dari Satelindo di mass media yang menyebut-nyebut upgrade to Matrix “supaya lebih bebas dan fleksibel”, saya mengalami dua hal yang membuat saya berketetapan hati untuk sudah saatnya meninggalkan matrix.

(1) Sebagai pelanggan setia satelindo (dan lalu berubah jadi matrix) sejak bertahun-tahun lalu, saya merasa dikecewakan dengan perubahan tenggat pembayaran yang tadinya satu bulan, menjadi dua (BACA: DUA) hari. Ini pun baru setelah pd tanggal 22 Matrix saya diblokir. Padahal tagihan baru datang tanggal 18. Apa ini artinya? Artinya adalah, kalau dulunya saya masih bisa menunggu gajian untuk membayar Matrix, saat ini sambil menunggu silakan nikmati blokir.

Dan SAYA BARU TAHU SOAL PERUBAHAN TENGGAT JADI HANYA DUA HARI , HANYA SETELAH DATANG, TANYA dan DIBERITAHU OLEH CUSTOMER SERVICE. Kenapa nggak nelpon aja, katanya? Lha saya nelpon dari pagi nggak masuk-masuk. Sampai sore datang ke customer service, layanan telpon customer service tidak bisa ditembus.

INIKAH KEBEBASAN DAN FLEKSIBILITAS yang ditawarkan Matrix kepada pelanggan lama? Kenapa mereka SAMA SEKALI TIDAK MENSOSIALISASIKAN info ini kepada pelanggan? Kalau begini caranya, bisa dibilang iklannya pun menyesatkan. Saya sarankan untuk pengguna mentari dan non satelindo, JANGAN SEKALI-SEKALI PINDAH KE MATRIX. Matrix sux!™

(2) Saya bertahan dengan Matrix karena Matrix-centro.com menyediakan layanan sms-gratis ke sesama pengguna matrix. Ini saya gunakan untuk sms ke istri saya. (Ya. Kami berdua bela-belain pakai Matrix). Soalnya lebih mudah ngirim sms ngetik di keyboard komputer. Bad news is, hari ini saya menemukan bahwa fasilitas itu nggak jalan! Masih ada sih, tapi di-send nggak ada hasil apa-apa! Tidak gagal, tidak berhasil, tidak pula ada di antrian. Matrix bener-bener sux!™

I think it’s time for me to Abandon Matrix!

PS: Nanya dong. Serius. (a) Operator lain berapa lama deadline bayar tagihannya? (b) Ada fasilitas sms dari internet? Kayaknya Telkomsel bisa di-sms dari Yahoo Messenger ya?

updated: yang nomor (2) terpaksa saya anulir, soalnya udah jalan lagi :p


LOW TRUST SOCIETY

posted:  27:02:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  readings, contemplation

Oleh: Rhenald Kasali (Pengajar Program MM dan Pascasarjana UI)

Saya baru saja memeriksa ujian mahasiswa saya. Ketika akan menyerahkan nilai akhir Mereka, saya terpaksa menoleh kepada berita acara ujian yang mencantumkan nama beserta tanda tangan mereka masing-masing. Astaga. Tak Ada satu pun nama yang dapat saya kenali dari tanda tangannya. Hal ini mengingatkan saya pada peristiwa unik yang saya alami hampir tujuh tahun silam ketika baru saja memulai program doktoral saya di Amerika Serikat.

Baru tiba beberapa hari, adviser saya menyuruh saya membuka bank account di bank mana saja di kota itu. Saya pun menurutinya. Maklum, tanpa punya buku cek, hidup di Amerika akan terasa sulit. Hampir semua transaksi dilakukan melalui pos. Bayar listrik, telepon, air, tagihan kartu kredit, beli buku, bayar pajak, kena tiket lalu lintas (tilang), sampai bayar uang sekolah. Semuanya menggunakan cek. Tanpa cek, hidup di Amerika kok rasanya susah sekali.

Setelah punya bank account dan mulai berbelanja dengan menggunakan cek, ternyata saya pun mengalami kesulitan. Pasalnya, petugas bank memanggil saya karena mengalami kesulitan membaca tanda tangan saya. Saya mencoba menjelaskannya bahwa itu benar tanda tangan milik saya, dan saya melakukannya kembali di depan petugas itu. Petugas tetap menolak dan mengatakan itu bukan tanda tangan. Kalau bukan tanda tangan lantas apa? “Itu urek-urek!”ujarnya sambil tersenyum. Sejak itu saya pun mulai berlatih membuat tanda tangan baru, yaitu tanda tangan yang namanya mudah teridentifikasi. Maka, sejak saat itu saya mulai terbiasa memiliki dua jenis tanda tangan. Saya menyebutnya satu tanda tangan lokal (yang dikatakan urek-urek tadi) dan satu lagi tanda tangan Amerika. Kalau Anda pernah hadir dalam seminar saya dan meminta saya menandatangani buku saya yang Anda baru beli, Anda pasti ingat bahwa saya selalu mengatakan itu adalah tanda tangan Amerika: mudah dibaca dan diidentifikasi. Ada juga pembaca yang minta dua-duanya, dan ada kalanya saya pun meluluskannya. Tanda tangan lokal itu biasanya hanya saya gunakan untuk urusan bank Dan menandatangani transkrip nilai mahasiswa. Dalam salah satu seminar saya pernah meminta agar para peserta menggoreskan tanda tangannya di atas kertas dan meminta rekan di sebelahnya yang baru dikenalnya mengenali nama mereka. Ternyata tak banyak di antara mereka yang dapat mengenali nama orang dari tanda tangannya. Ketika ditanya mengapa mereka membuat tanda tangan seruwet itu, semuanya menjawab bak koor: “Biar tidak mudah ditiru orang lain.” Mengapa kita semua melakukan hal yang sama? Mudah ditebak jawabnya.

Sejak kecil Kita telah diajari orang-orang tua dan guru-guru Kita agar tidak mudah percaya pada orang lain. “Buatlah tanda tangan yang tidak mudah ditiru agar jangan sampai dipalsukan orang lain.” Kita menurutinya, dan tanpa kita sadari roh-roh ketidakpercayaan ini sudah melekat dalam pikiran kita. “Trust,” kata Francis Fukuyama, adalah “the social virtues and the creation of prosperity.” Rasa percaya adalah suatu ikatan sosial yang penting untuk menciptakan kemakmuran. Kalau tidak ada rasa percaya, mestinya tidak ada bisnis. Bagaimana mungkin kita berbinsis dengan orang yang tidak Kita percaya? Rasa percaya itu pula yang akan menentukan bangunan organisasi perusahaan saudara. Makin rendah rasa percaya kita terhadap orang lain, makin banyak pula kita melibatkan sanak saudara kita, teman sealmamater, sesuku dan sebagainya terlibat dalam bisnis kita. Kita makin menutup pintu bagi orang lain. Dan akibatnya potensi kita untuk menjadi besar akan terhambat.

Pengalaman lainnya yang saya dapatkan di Amerika barangkali dapat menjelaskan betapa berbedanya tingkat rasa percaya. Menjelang pulang ke tanah air, setelah menyelesaikan program studi, saya pun melakukan moving sale melego barang-barang yang nilai bukunya masih cukup tinggi. Misalnya saja Ada sebuah dish washer (mesin pencuci piring) elektrik yang usianya baru tiga tahun Dan nilainya masih cukup tinggi namun harus dilepas dengan harga yang sangat murah. Pembelinya tentu saja masyarakat komunitas tempat tinggal kami, yang umumnya adalah keluarga muda atau para mahasiswa asing yang dari mancanegara. Kalau calon pembelinya datang dari negara-negara seperti Rusia, Yugoslavia, Ceko, Turki, Portugal, Brazil, Irak, Pakistan, India, atau negara-negara Afrika, biasanya transaksi berjalan tersendat-sendat. Mereka umumnya tidak percaya terhadap kualitas mesin (apakah masih tetap baik) dan harga yang ditawarkan. Mereka mengutak-atik mesin, menghabiskan waktu berjam-jam, mengajukan pertanyaan, lalu menawar di bawah separo dari harga yang ditawarkan. Prosesnya sama seperti Anda menawar harga sepasang sepatu di pasar Senen atau pasar lainnya di Indonesia. Dan akhirnya pun dapat diterka: tidak ada transaksi. Hal yang berbeda dialami kalau pembelinya berasal dari negara-negara yang barangkali dapat kita sebut sebagai high trust society, seperti Amerika, Inggris, Finlandia, bahkan Jepang yang rata-rata sudah lebih makmur hidupnya. Mereka cuma bertanya tiga hal: mengapa dijual, apakah ada kerusakan, dan berapa harganya. Kalau mereka suka, mereka tidak menawar, langsung angkat. Dalam kepala mereka, kalau barang ini rusak maka mereka akan kembalikan segera. Mereka percaya bahwa orang lain dapat dipercaya, dan kalau mereka menipu mereka akan ditangkap polisi, diadili, dan dijatuhi hukuman.

Pembaca, apakah implikasi melakukan kegiatan bisnis di sebuah low trust society? Mudah-mudahan Saudara sudah dapat menangkapnya: jangan langsung melakukan transaksi. Selalu mulailah dengan membangun rasa percaya dari lawan-lawan bisnis Anda. Jangan sesekali melakukan penawaran kalau lawan bisnis Anda di sini belum mengenal betul Anda. Kalau ada jalan pintas yang dapat ditawarkan, barangkali cuma satu ini: carilah jembatan melalui orang-orang yang sudah dikenal dan dipercaya oleh lawan bisnis Anda. Tanpa itu, Anda cuma melakukan upaya sia-sia. Saya merindukan, kelak anak-anak kita akan membuat tanda tangan yang namanya dapat dibaca oleh orang lain.


Batas Keraguan

posted:  26:01:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  readings, contemplation

Suara menyebut nama-Mu laksana melodi
Ku dengar hampa tanpa makna
Hamparan alam semesta bagaikan lukisan
Terlahir indah tanpa kanvas

Kulajukan langkah tanpa melihat-Mu
Biarkan waktu berlalu
Tanpa tau siapa yang memberikannya padaku

Saat sang gulita datang dan aku menyumpah
Kesalahan siapakah semua
Yang membuatku merana dan kian terlunta
Tak ingin ku melihat makna

Di ujung bimbangku, Kau merengkuh sukmaku
Di batas raguku, Kau bawa kasih-Mu
Di dalam jemari cinta-Mu

Semua terjawab sudah
Kau ada di setiap tanya
Di setiap ayunan langkahku

Semua terjawab sudah
Kau ada di setiap pinta
Engkau ada di setiap hembusan nafasku

Allah Ya Robbi
Engkau berada di mana aku berada

(~ Marina Noviani)

Mengapa IT?

posted:  17:01:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  work, readings, contemplation

Ada banyak hal lagi mengapa IT:

  1. karena kita orang IT , dan IT kata kuncinya adalah inovasi

  2. jualan barang tangible, nilai daya kompetisinya rendah,memang bisa sich kita produksi,tapi boleh dipastikan negara lain terutama china pasti bisa bikin harga yang lebih murah (masalah pengkomoditian apa saja oleh China sekarang ini adalah masalah besar di dunia, pemimpin negara maju seperti US dan Eropa sudah menekan China agar currency-nya dirubah sehingga bisnis exim menguntungkan untuk semua. Sebenarnya yang paling merasakan dampak dari kebijakan ekonomi chinabukan amerika, bukan jepang, bukan eropa tapi negara besar yang gak bisa menghidupi kebutuhanya sendiri yaitu Indonesia sendiri……. sadar gak sadar kemajuan China sebenarnya sangat menghambat kemajuan kita untuk bangkit).

  3. bisnis tangible punya market yang fixed, susah ada inovasi di bidang ini.

  4. bisnis export IT yang intangible sebenarnya adalah “what people wants”. Korporate2 di negara maju gak bisa hidup tanpa IT, marketnya besar. Saya sendiri beberapa kali dikirim email oleh rekan2 dan terkejut begitu mengetahui nilai export software dan kebutuhan IT di luar yang disupply India, China, Vietnam, ini bukan skala kecil tapi skala massive yang bisa merubah semua negara.

  5. kata kunci IT saat ini adalah: SERVICE dan EFISIENSI. Lihat bacaan dari economist yang om adjie forward kalau service sektor di IT yang nomor satu,artinya bukan kemampuan bikin produk yang jadi pemenang, tapi industri service /consulting /outsourcing /integration /customization.

Mengenai efisiensi,ini ada hubunganya dengan the world is flat, tapi karena perubahan struktur ekonomi dan IT di dunia, kalau persh IT mau survice, mereka HARUS(BACA: HARUS) investasi SDM jangka panjang di Asia.

Bayangin,orang sono yang tergopoh2 datang ke Asia supaya companynya survive.

Carlos (dari milis teknologia)


Kopi Luwak: $175/pound!

posted:  11:01:06,  by:  ivo setyadi,  in categories:  food, readings

Pricey coffee good to the last dropping

NEW YORK (Reuters) - Would you pay $175 for a pound of coffee beans which had passed through the backside of a furry mammal in Indonesia?

Apparently, some coffee lovers wanting to treat themselves to something special are lapping it up.

Kopi Luwak beans from Indonesia are rare and expensive, thanks to a unique taste and aroma enhanced by the digestive system of palm civets, nocturnal tree-climbing creatures about the size of a large house cat.

“People like coffee. And when they want to treat themselves, they order the Kopi Luwak,” said Isaac Jones, director of sales for Tastes of The World, an online supplier of gourmet coffee, tea and cocoa.

Despite being carnivorous, civets eat ripe coffee cherries for treats. The coffee beans, which are found inside of the cherries, remain intact after passing through the animal.

Civet droppings are found on the forest floor near coffee plantations. Once carefully cleaned and roasted, the beans are sold to specialty buyers.

Jones said sales for Kopi Luwak rose three-fold just before the Christmas holiday compared with the first half of the year. The company started selling the rare coffee in February 2005.

He expects to sell around 200 pounds of the coffee this year, with orders coming from North America and Europe. So far, most of the orders have been from California.

Indonesia produces only about 500 kilograms, or roughly 1,100 pounds, of the coffee each year, making it extremely expensive and difficult to find.

“It’s the most expensive coffee that we know about in the world,” said Jones.

By comparison Jamaica’s Blue Mountain coffee, considered to be an expensive type, sells for $35 to $40 per pound, while a pound of Colombia’s Supremo arabicas can be bought for about $14.

Reuters


Kalau Merokok di Tempat Umum, Pasti Orang Indonesia

posted:  06:12:05,  by:  ivo setyadi,  in categories:  daily, readings, contemplation

Republika, Senin, 05 Desember 2005

Kebiasaan merokok orang Indonesia ternyata kelewat parah. Di negeri orang, parahnya mencandu nikotin itu bakal terlihat. Pada hampir seluruh sudut kota Manila, Filipina, tak mudah menemukan perokok sedang menikmati kebiasaan buruknya di jalanan atau tempat-tempat umum. Bahkan di kawasan terkumuh sekalipun. Kalau pun merokok, mereka memilih tempat yang jauh dari keramain.

Untuk urusan larangan merokok di tempat umum, Jakarta layak meniru Manila. Warga setempat sangat tertib dalam hal ini. Bukan hanya petugas saja yang berani menegur orang yang merokok di tempat umum. Masyarakat biasa pun tak segan-segan melakukannya bila menjumpai orang yang merokok sembarangan. Tak heran bila di atas kendaraan angkutan umum, tidak ada orang yang merokok.

Tingkat penghasilan penduduk Manila pun termasuk rendah. Seorang sopir taksi yang bekerja selama 24 jam hanya berpenghasilan 500 peso atau setara Rp 100 ribu per hari. Itu belum termasuk setoran sewa taksi yang besarnya 400 peso.

Tapi, predikat miskin tak melekat pada masalah disiplin dalam menjaga kesehatan. Memang, kalau soal tertib lalu lintas tak beda dengan perilaku orang Indonesia. Bila berada di belakang kemudi juga seradak-seruduk seenaknya. Kesemrawutan jalan dan kemacetan lalu lintas, terutama di pagi dan siang hari menjelang berangkat dan pulang, juga jadi rutinitas.

Horison Plaza adalah salah satu pusat perbelanjaan terlengkap di kawanan Makati, Metro Manila. Letaknya persis di depan stadion Rizal Memorial Park Complex, tempat SEA Games 2005. Tak heran bila atlet asal berbagai kontingen, seusai bertanding, singgah berbelanja di sana.

Selama ini hampir pasti tidak ada orang yang merokok sambil berjalan di dalam pusat perbelanjaan tersebut. Kalaupun hendak merokok biasanya menuju taman yang dirancang sedemikian rupa untuk istirahat. Di situlah mereka bercandagurau sambil mengepulkan asap rokok. Tak heran bila di sudut-sudut sangat jarang ditulis ‘Dilarang Merokok’ seperti di Indonesia.

Mencari rokok di Manila ternyata sangat sulit, kecuali di supermarket. Warung kaki lima yang menyediakan rokok dan permen ala Indonesia hampir tidak ada sama sekali. Kalaupun ada paling asongan di lampu merah yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Penyelenggaraan SEA Games 2005 di Filipina ternyata membawa pengaruh pada masyarakatnya. Sebelumnya, ‘rambu-rambu’ larangan merokok jarang dijumpai di tempat-tempat umum. Belakangan tulisan ‘no smoking’ bertebaran, termasuk di lapangan atau di tempat yang tak akan menjadi pengap bila asap rokok bertebaran.

Republika merasa sangat malu saat mendengar alasan mereka mengapa memperbanyak papan larangan merokok. Ternyata, langkah itu untuk mengantisipasi kebiasaan merokok orang Indonesia di jalanan dan tempat-tempat umum. ‘’Mengenali orang Indonesia itu mudah. Kalau merokok di jalan pasti dari Indonesia,'’ ujar Jonanthan, seorang petugas panitia SEA Games. Tapi, kebiasaan adalah kebiasaan, sulit untuk diubah. Walau papan larangan merokok sebesar gajah, tetap saja banyak yang mencuri-curi merokok. Maka, meski sering ditegur, tetap saja terus dilanggar. Itulah susahnya, bila kita berkebiasaan membiarkan kebiasaan melanggar.

(lukmanul hakim )


A HUGE DEBT for rakyat indonesia…

posted:  30:06:05,  by:  ivo setyadi,  in categories:  readings, politics, contemplation

From an article here. Here’s some excerpt:

AMY GOODMAN: Okay. Explain the company you worked for.

JOHN PERKINS: Well, the company I worked for was a company named Chas. T. Main in Boston, Massachusetts. We were about 2,000 employees, and I became its chief economist. I ended up having fifty people working for me. But my real job was deal-making. It was giving loans to other countries, huge loans, much bigger than they could possibly repay. One of the conditions of the loan–let’s say a $1 billion to a country like Indonesia or Ecuador–and this country would then have to give ninety percent of that loan back to a U.S. company, or U.S. companies, to build the infrastructure–a Halliburton or a Bechtel. These were big ones. Those companies would then go in and build an electrical system or ports or highways, and these would basically serve just a few of the very wealthiest families in those countries. The poor people in those countries would be stuck ultimately with this amazing debt that they couldn’t possibly repay. A country today like Ecuador owes over fifty percent of its national budget just to pay down its debt. And it really can’t do it. So, we literally have them over a barrel. So, when we want more oil, we go to Ecuador and say, “Look, you’re not able to repay your debts, therefore give our oil companies your Amazon rain forest, which are filled with oil.” And today we’re going in and destroying Amazonian rain forests, forcing Ecuador to give them to us because they’ve accumulated all this debt. So we make this big loan, most of it comes back to the United States, the country is left with the debt plus lots of interest, and they basically become our servants, our slaves. It’s an empire. There’s no two ways about it. It’s a huge empire. It’s been extremely successful.

AMY GOODMAN: We’re talking to John Perkins, author of Confessions of an Economic Hit Man. You say because of bribes and other reason you didn’t write this book for a long time. What do you mean? Who tried to bribe you, or who — what are the bribes you accepted?

JOHN PERKINS: Well, I accepted a half a million dollar bribe in the nineties not to write the book.

AMY GOODMAN: From?

JOHN PERKINS: From a major construction engineering company.

AMY GOODMAN: Which one?

… [deleted]

Check the link above for the rest of the story.


Ivo Setyadi

January 2010
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts:

Categories:

Archives:

Search:


Shouts:

Links:

Other:

Meta:


Rank

Blogsome Ad